LOSOSA GARAM
KESEHATAN
(MEMBANGUN KESEIMBANGAN MINERAL)
LoSoSa merupakan produk garam konsumsi yang dikembangkan sebagai solusi atas maraknya trend masyarakat cenderung mengalami keadaan “Oversodium” yang berakibat kehilangan keseimbangan rasio Sodium-Potassium dalam tubuh.Keadaan kehilangan keseimbangan sodium-potassium menyebabkan tekanan darah tinggi dan penyakit degeneratif seperti jantung, ginjal, stroke dan lain-lain.
Hipertensi dan penyakit kardiovaskular sesuai dengan angka statistik kesehatan, merupakan penyakit penyebab kematian pertama saat ini di dunia berdasarkan WHO dan di Indonesia berdasarkan angka BPS atas studi tahun 1992-1995.
Keadaan “Oversodium” merupakan akibat dari perubahan pola hidup yang cenderung kurang gerak, dan pola makan dengan kandungan sodium tinggi baik berupa penyedap makanan maupun sebagai pengawet.
1. LATAR BELAKANG PELUNCURAN PRODUK
1. Lebih dari 40% usia dewasa menderita hipertensi sistolik yang penyebab utamanya oleh beberapa faktor pola hidup/makan:
a. Mengkonsumsi makanan mengandung lemak tinggi, kurang serat dan tinggi kadar sodium.
b. Kurang mengkonsumsi makanan sayuran dan buah-buahan yang kaya akan kandungan mineral magnesium dan potassium sebagai penyeimbang kelebihan sodium di dalam tubuh.
2. Tren Industri makanan dan minuman yang
cenderung menawarkan kepraktisan, kelezatan dan kemudahan dengan makanan dalam
kemasan atau siap saji yang mengandung zat pengawet, zat pewarna makanan, MSG
dan garam yang menyebabkan konsumen:
a. Mengalami keadaan over sodium atau mengkonsumsi sodium diatas batas kemampuan ekskreksi ginjal (15 garam per hari) yang berpotensi terhadap penyakit darah tinggi, kelelahan ginjal dan penyakit degeneratif.
b. Kehilangan keseimbangan kalium-natrium minimum 5:1 yang berfungsi menjaga suhu tubuh normal, keseimbangan cairan tubuh, elektrolit, asambasa (pH normal 2-3) dan gangguan pencernaan.
c. Mengalami defisiensi Ca yang berakibat gangguan pertumbuhan tulang, pengeroposan tulang (Osteoroporosis), gangguan otot, tekanan darah tinggi dll.
d. Perubahan pola hidup masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan tidak didukung dengan pengetahuan yang memadai tentang pengetahuan nutrisi atau gizi yang menyebabkan masyarakat mengalami:
i. Buruk gizi akibat buta gizi diluar faktor ekonomi dan kesalahan penyajian menu makanan akibat kekurangpahaman atas nilai-nilai gizi makanan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi (anak sekarang dengan kemajuan teknologi informasi mengakibatkan aktivitas yang jauh lebih besar dibanding masa lalu sehingga membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak) jika tidak maka pertumbuhannya akan terganggu seperti kesehatan mata, pembentukan sel darah merah (anemia), pertumbuhan tulang dll.
ii. Gangguan fungsi pencernaan yang berakibat kekurangan asupan nutrisi bagi tubuh karena makanan yang dikonsumsi tidak maksimum, dapat diolah menjadi zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh karena banyak terbuang dalam urine.
iii. Kelebihan
gizi yang disebut juga over nutrisi atau kesalahan gizi karena asupan nutrisi
melebihi kebutuhan yang berakibat pada kelelahan fungsi jaringan tubuh seperti
ginjal, obesitas, fungsi pencernaan menjadi lelah atau stress usus dan
sebagainya. Saat ini dengan pola hidup yang sibuk dan cenderung kurang
bergerak/ berolahraga telah membuat masyarakat mencari kepraktisan dalampola
makan seperti cepat dan slap saji, makanan dalam kemasan/ kaleng, minuman
berkarbonat dan penyedap masakan/ makanan dan sebagainya yang berdampak pada
kelebihan lemak, karbohidrat dan terutama kelebihan sodium.
2. PENYAKIT
GIZI LEBIH SUMBER PENYAKIT DEGENERATIF
Penyakit gizi juga
merupakan penyakit gizi buruk yang diakibatkan oleh kurang seimbangnya antara
besarnya kebutuhan nutrisi dan jumlah pemasukannya dan dikelompokkan menjadi
dua yakni, pertama merupakan penyakit kekurangan gizi yang disebut malnutrition
seperti penyakit busung lapar, defisiensi mineral dan vitamin, yang kedua
penyakit kelebihan nutrisi yakni asupan nutrisi melebihi kebutuhan tubuh yang
menyebabkan penyakit degeneratif seperti hipertensi, gagal ginjal, stroke dan
sebagainya.
Berikut ini merupakan bahasan khusus tentang penyakit gizi lebih, umumnya terjadi akibat ketidakseimbangan asupan nutrisi antara jumlah masukan dan kebutuhan.Penyakit gizi lebih relatif baru muncul di permukaan pada awal tahun 1990-an. Peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu dan kesibukan bekerja, terutama di perkotaan telah menyebabkan perubahan dalam gays hidup, terutama pola makan.Pola makan tradisional yang tadinya tinggi karbohidrat, tinggi serat, rendah lemak berubah ke pola makan baru yang rendah karbohidrat, rendah serat kasar dan tinggi lemak, sehingga menggeser mutu makanan ke arah tidak seimbang.
Perubahan pola makan gizi lebih ini dipercepat oleh banyaknya arus masuk makanan budaya asing yang disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi, globalisasi ekonomi dengan maraknya jaringan makanan cepat saji asing dan peningkatan taraf hidup dan pola kerja masyarakat yang menginginkan kepraktisan disamping kelezatan makanan. Masyarakat terutama mereka yang tinggal di daerah perkotaan telah bekerja dan hidup dengan kurang gerak (bekerja di kantor) atau aktivitas fisik dan stress (akibat tanggung jawab pekerjaan dan hidup) yang berakibat pada sebagian masyarakat mengalami pergeseran pola makan yang mengakibatkan gangguan akibat kelebihan nutrisi atau kehilangan keseimbangan gizi.
a. KASUS
GIZI LEBIH PADA BALITA
Data antropometri balita (BB/U) yang dikumpulkan melalui Susenasdan dianalisis oleh direktorat Bina Gizi Masyarakat (MGM) Depkes dengan menggunakan kriteria +2 SB sebagai ambang batas gizi lebih/kegemukan, menunjukkan bahwa dalam 10 tahun yaitu dari tahun 1989-1999 prevalensi gizi lebih pada balita meningkat dari 0,77% hingga 4.48%.
b. KASUS KEGEMUKAN DAN OBESITAS
Hasil pemantauan oleh direktorat BGM Depkes pada tahun
1996/1997 terhadap 10.949 orang dewasa terdiri dari 3.661 laki-laki (34,9%) dan
6.833 perempuan (65,1%) berumur 19-65 tahun yang dipilih secara acak di 14
kota, menunjukkan bahwa prevalansi kegemukan pada laki-laki adalah 12,8% dan
pada perempuan 20,0% dengan rata-rata 17,5% (Satoto dkk 1998).
Prevalansi obesitas pada laki-laki adalah sebesar 2,5% dan pada perempuan 5,9% dengan rata-rata 4,7%. Kriteria kegemukan adalah indeks Masa Tumbuh (IMT) 25,1 – 30,0, sedangkan obesitas IMT > 30,0. Data ini menunjukkan bahwa prevalensi kegemukan dan obesitas pada usia 19 – 65 tahun lebih besar pada perempuan daripada laki-laki.
c. KASUS OVERSODIUM
Maraknya industri makanan dalam kemasan, makanan slap dan cepat
saji,restoran waralaba dengan menu makanan barat, penyedap masakan dan makanan
untuk memenuhi kebutuhan atas pola hidup yang sibuk terutama masyarakat yang
tinggal di perkotaan dan bekerja kurang berkeringat telah menimbulkan keadaan
kehilangan keseimbangan mineral atau over mineral.Keadaan ini sangat kontras
dengan masyarakat yang hidup di pedesaan atau wilayah rural yang hidup dari
pertanian yang lebih cenderung mengalami defisiensi gizi. Saat ini disamping
obesitas yang sudah dianggap sebagai penyakit kasus keseimbangan sodium marak
dianalisa dan dicari solusinya dengan meningkatnya penyakit degeneratif yang
jauh lebih berbahaya daripada penyakit AIDS.
Lain-lain adalah seperti bumbu masak yang slap diproses, penyedap makanan yang diberikan diatas meja atau pada saat memakan seperti saus tomat, cabe, kecap manis dan asin.
d. PENYAKIT PEMBULUH DARAH DAN JANTUNG
Dampak lain dan akibat gizi lebih adalah meningkatnya angka
penyakit degeneratif, seperti jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi dan
penyakit hati. Data BPS tahun 1989 dan 1995 menunjukkan loncatan besar penyebab
kematian. Bila tahun 1972 penyakit jantung dan pembuluh darah menduduki urutan
ke 11 sebagai penyebab kematian dengan mobiditas 1,1% per 1000 penduduk, pada
tahun 1992 dan 1995 penyakit ini telah menduduki urutan pertama dalam penyebab
kematian. Yaitu masing-masing sebesar 15,5% dan 18,9%. Penyakit ini menonjol
pada orang dewasa dan lanjut usia di daerah perkotaan di daerah Sumatera, Jawa
dan Bali. Selain itu penyakit endoktrin dan metabolisme terutama diabetes melitus
dan neoplashma (tumor dan kanker) menonjol di perkotaan khususnya diantara
penduduk berpendidikan dan berpendapatan tinggi.
3. TREN PENYAKIT KARDIOVASKULAR DAN TEKANAN DARAH
TINGGI SEBAGAI PENYEBAB KEMATIAN NO. 1
Hipertensi
merupakan penyebab utama resiko terserang stroke atau kematian mendadak (sudden
death).Tekanan darah yang tinggi menghasilkan resistensi terhadap setiap darah
yang dipompa oleh jantung dan dialirkan melalui pembuluh arteri. Tekanan darah
normal pada usia dewasa adalah 120 (sistolik) dan 80(diastolik). Sistolik
adalah tekanan darah puncak pertama pada saat jantung berkontraksi memompa
darah sedangkan diastolik adalah tekanan darah terendah kedua pada saat jantung
mengecil.
Tekanan darah tinggi
dikelompokkan menjadi empat tingkatan yakni: border line (120-160/90-94), mild
(140-160/95-104), moderate (140-280/105-114) dan severe (160+/115+). Kecenderungan
umumnya masyarakat dan para medis banyak lebih melihat pala tekanan darah
diastolik, tetapi tekanan darah sistolik juga merupakan faktor penting.Orang
dengan tekanan darah diastolik normal (<82 mm Hg) tetapi memiliki tekanan
darah sistolik yang tinggi (>158 mm Hg) memiliki dua kali lipat tingkat
resiko kematian dibanding dengan mereka yang memiliki tekanan darah sistolik
normal (<130 mm Hg).
Angka tabel berikut
dibuat berdasarkan angka yang diterima pada tahun 1996 dan perkiraan angkanya
terus meningkat.
Tabel 1
|
Jenis Kasus Penyakit Mematikan |
Jumlah Kematian |
Urutan (Ranking) |
|
Heart Disease |
7200 |
1 |
|
Cardiovascular |
4600 |
2 |
|
Acute lower Respiratory |
3905 |
3 |
|
Tuberculosis |
3000 |
4 |
|
COPD |
2882 |
5 |
|
Diarrhea and Dysentery |
2473 |
6 |
|
Malaria |
1500-2700 |
7 |
|
HIV/AIDS |
1500 |
8 |
|
Hepatitis B |
1156 |
9 |
|
Prematurely |
1150 |
10 |
|
Measles |
1010 |
11 |
|
Cancer |
989 |
12 |
a) PENINGKATAN TREN PENYAKIT JANTUNG DI ASIA
Penderita penyakit gagal jantung diperkirakan akan terus
meningkat dalam beberapa tahun mendatang terutama di kota-kota besar di Asia
Tenggara. Kematian akibat gagal Jantung di India diperkirakan tumbuh dari 1.175
juta di tahun 1990 menjadi 1.591 juta pada tahun 2000, dan diperkirakan akan
terus mengalami peningkatan menjadi 2.034 juts pada tahun 2010. Beberapa faktor
penyebabnya adalah perubahan pola hidup, pola kerja di belakang meja atau
kurang gerak, konsumsi makanan berlemak dan merokok.Dengan perubahan demografi
dan pola hidup ini di Asia sekitar 10-15% populasi dewasa telah menderita
tekanan darah tinggi terutama di India, Indonesia dan Thailand.Hal ini juga
diakibatkan oleh rendahnya tingkat pengetahuan, kepedulian atas kesehatan dan
pola makan.
b) PENINGKATAN TREN PENYAKIT JANTUNG DI THAILAND
Berikut adalah trend peningkatan penderita penyakit jantung di Thailand dari tahun 1986 meningkat dari 63.4 kasus dalam 100.000 meningkat menjadi 171,4 kasus dalam tahun 1996 dengan index pertumbuhan 270% atau meningkat 2,7 kali dalam sepuluh tahun atau dengan rata- rata peningkatan 20,6% per tahunnya.
c) RANKING PENYAKIT TIDAK MENULAR DI SURABAYA
Berikut
adalah contoh jumlah kasus penyakit tidak menular per 100.000 penduduk Kodya
Surabaya Tahun 2002.Ranking pertama penderita penyakit tidak menular ditempati
oleh penyakit pembuluh darah dan Jantung yakni sebesar 8.16%.
Tabel 2
|
Jenis
Kasus Penyakit |
Jumlah Kasus |
%/ 100 000 Penduduk |
Urutan (Rank) |
|
Pembuluh Darah & Jantung |
81615 |
8.16 |
1 |
|
Gangguan Mental & Perilaku |
38244 |
3.82 |
2 |
|
Diabates Mellitus |
29711 |
2.97 |
3 |
|
Katarak |
8266 |
0.83 |
4 |
|
Gangguan Fungsi Ginjal |
7856 |
0.79 |
5 |
|
Susunan Syaraf |
1340 |
0.13 |
6 |
|
Neoplasma Ganas |
960 |
0.10 |
7 |
|
Gangguan Fungsi Hati |
443 |
0.04 |
8 |
|
Glukoma |
390 |
0.04 |
9 |
|
Gangguan Fungsi Frostat |
246 |
0.02 |
10 |
|
Amnesia |
0 |
0.00 |
11 |
Sumber data : Dinas
Kesehatan Kodya Surabaya – 2002
4. LOSOSA GARAM UNTUK POLA HIDUP MODERN
Tren dengan
pola hidup dan makan masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan yang
membutuhkan kepraktisan dalam memenuhi kebutuhan makan dengan mengkonsumsi
makanan cepat saji, siap saji, makanan dalam kemasan, bumbu penyedap masakan
yang kaya unsur sodium baik sebagai penyedap, pemanis dan pengawet telah
berdampak pada gizi lebih, terutama kehilangan keseimbangan rasio
sodium-potassium yang berdampak pada penyakit degeneratif.
Maraknya industri
restoran, makanan yang menyajikan kepraktisan dan kenikmatan rasa telah
ditengarai sebagai salah satu penyebab perubahan pola hidup tidak
sehat.Industri dan rumah tangga membutuhkan garam yang memiliki keseimbangan
mineral sesuai dengan pola hidup masyarakat.
LoSoSa garam yang dibuat dengan kaya kandungan mineral alami untuk membantu masyarakat mendapatkan keseimbangan sodium-potassium dan Iodium.LoSoSa dibuat dengan proses dan teknologi yang memastikan kemurnian garam alami dan kenikmatan rasa.
Komposisi LososaVs Garam biasa:
Garam LoSoSa
dibanding dengan Garam dapur biasa terhadap AKG Minimum dalam pengukuran satu
sendok teh (7 gram)
Tabel 3
|
Parameter |
AKG Dewasa |
Garam Dapur (7 gram) |
Garam LoSoSa (7 gram) |
+/- Garam Dapur Vs AKG Minimum |
+/- Garam LoSoSa Vs AKG Minimum |
|
Sodium/ Natrium
(mg) |
500-2400 |
2.800 |
1.652 |
+2300 |
+1152 |
|
Kalium /Potassium
(mg) |
2000-5600 |
- |
1.150 |
-2000 |
-850 |
|
Klorida (mg) |
750-5100 |
4.200 |
4.200 |
+3450 |
+3450 |
|
Iodium/KIO3 (ppm) |
150 |
210 |
280 |
+60 |
.+130 |
|
|
|
|
|
|
|
AKG = Angka Kecukupan Gizi
Lososa dengan kandungan Sodium-Potassium seimbang dapat membantu masyarakat hidup sehat penuh vitalitas dengan menjaga:
·
Kestabilan
cairan tubuh dan pendistribusiannya
·
Kestabilan
tekanan darah
·
Keseimbangan
Asam-Basa
·
Menjaga
fungsi otot dan sel saraf
·
Membantu
fungsi Jantung
·
Menjaga
fungsi ginjal dan kelenjar adrenalin
Lebih dari 95% potassium di dalam tubuh terdapat dalam sel.
Secara kontras dan kebalikannya sodium dalam tubuh terdapat di luar sel dalam
darah dan cairan lainnya.Sel memompa sodium keluar dan memompa masuk potassium
melalui pompa “Sodium Potassium”.Pompa ini terdapat dalam semua membran sel
dalam tubuh dan merupakan aspek terpenting dalam menjaga kesehatan selular.
Pompa "Sodium-Potassium" juga berfungsi menjaga arus elektrolit di dalam
set dan dalam fungsi perintah, fungsi otot dan saraf. Pada saat transmisi saraf
dan kontraksi otot, potassium akan keluar dari sel dan sebaliknya sodium akan
masuk ke dalam sel yang mengakibatkan timbulnya arus elektrolit (electrical
charge). Perubahan ini yang menyebabkan gerakan perintah saraf dan kontraksi
otot. Kehilangan keseimbangan sodium-potassium berdampak Iangsung pada fungsi
saraf dan otot:
Tabel
1- Skema distribusi cairan di dalam tubuh.
|
Cairan Tubuh Total
(100%) 45 liter |
||
|
Ekstraselular (33%) 15 liter |
Intraselular (66%) 30 liter |
|
|
Darah/intervaskuler 3 liter Na : K = 28 : 1 |
Interselular/ interstisial 12 liter Na : K = 28 : 1 |
|
Sumber
:SunitaAlmatsier, Prinsip dasar Ilmu Gizi, PT. GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA 2002
Seorang yang mempunyai berat badan 70 kg
mengandung kuranglebih 45 liter air, 30 liter diantaranya merupakan cairan
intraselular dan 15liter berupa cairan ekstraselular.Seperlima dari cairan
ekstraselular (3 liter) adalah cairan intravasculardan selebihnya (12 liter)
berupa cairan interselular (termasuk cairan serebrospinal, sekresi saluran
cerna, cairan dalam mata dan telinga).
Cairan interselular memasok bahan-bahan
yang diperlukan tiap sel dan membawa keluar produk akhir hasil-hasil reaksi
kimia yang terjadi di dalam tiap sel. Setiap kompartemen cairan dipisahkan satu
sama lain oleh membran semi/permeabel yang dapat dilewati secara bebas oleh air
dan oleh elektrolit.

Komentar
Posting Komentar